Perbedaan Novel Fiksi Vs Non-fiksi

cryptonewslab.com – Cerita panjang yang dikarang oleh penulis dapat mengandung berbagai rangkaian alur kehidupan seseorang yang memperlihatkan watak dan sifat dari tiap pelaku cerita. Penulis dari rangkaian cerita panjang yang dapat disebut novel adalah novelis. Tiap novelis memiliki genrenya masing-masing tergantung pada ciri khasnya.

Berdasarkan kenyataan ceritanya, dapat dibagi menjadi dua yaitu, fiksi dan non-fiksi. Berikut perbedaannya,

Genre pada novel biasanya akan tergantung pada ciri khas penulis, ciri khas penulis dapat dilihat melalui cara ia mengungkapkan sebuah cerita ke dalam tulisan. Ciri khas penulis dapat menjadi sebuah nilai tambah bagi para pembaca yang menyukai gaya penulisan tertentu.

Cerita fiksi merupakan karangan cerita dari imajinasi penulis yang biasanya tidak terjadi dalam kehidupan nyata. Cerita ini terkadang lebih disukain oleh orang-orang yang dapat memikirkan cerita yang didalamnya sehingga, pembaca dapat berimajinasi dengan apa yang telah dibaca. Ini dapat dicontohkan seperti, cerita Harry Potter yang sukses di pasaran hingga penulisnya mendapat gelar terkaya dan tersukses di majalah forbes. Harry Potter menceritakan tiga sekawan yang melawan penjahat dengan sihirnya. Berbeda dengan fiksi di Indonesia yang penuh dengan cerita kemanusiaan sosial budaya seperti, Bumi Manusia lalu, Ronggeng Dukuh Paruh. Namun perlu diingat juga novel di luar negeri dan Indonesia pun tidak hanya yang dijelaskan diatas masih banyak lagi.

Novel non-fiksi ditulsi berdasarkan kejadian nyata yang pernah terjadi, biasanya penulis mendapat ide melalui pengalamannya sendiri maupun dari kejadian di lingkungan sekitar. Laskar Pelangi merupakan salah satu contoh cerita fakta yang di alami oleh penulis mengenai sekelompok anak yang berjuang mempertahankan sekolahnya agar tidak di gusur oleh pemerintah. Adapula cerita kemanusiaan mengenai perlawanan seorang demonstran terhadap penindasan, buku Catatan Seorang Demonstran – Seo Hok Gie adalah buku yang dapat menjadi sebuah dorongan untuk mahasiswa untuk melawan penindasan terhadap rakyat yang tidak berdaya.

Novel fiksi maupun non- fiksi memiliki pembacanya masing-masing, pembaca dapat membaca keduanya ataupun salah satunya. Hal ini tentunya tergantung pada kesukaan pembaca, namun kebanyakan penulis atau novelis menulis sebuah karangan tidak serta merta hanya ingin mendapatkan keuntungan dibalik itu terdapat sebuah seni, hobi atau memang pengalaman loker penulis yang ingin membagikan pengalamannya ke masyarakat luas. Pembaca tentunya dapat menghargai pembaca dengan tidak mencetak ulang buku tanpa ijin penerbit atau penulis aslinya.